Friday, October 23, 2015

Obrolan Bapak-Bapak

Standard
Temannya bertanya, “Apa hal yang paling menyakitkan bagi lo,Ben?”

Cepat Ben melirik ke arah wajah temannya. Tertunduk. Menegakkan kembali kepalanya. Pandangnya ke depan, berucap

“RINDU!” Napasnya ditarik dalam-dalam. Imbuhnya, “ Tapi tahu teman, aku selalu punya cara untuk melenyapkannya, walau itu hanya sedikit. Belajar akademik, baca buku, berdiskusi, bermain musik, menonton, tertawa, dan merenungkan masa depan, tetapi
itu tidak membunuh rasa rindu itu seutuhnya. Seperti yang aku katakan tadi, hanya sedikit!”

Ben menyentuh cupingnya, seolah-oleh menyingkirkan macam debu. Bicaranya belum berakhir. “Fatalnya di hari aku melakukan hal tersebut, bisa dan bahkan kerinduaanku menjadi dua kali lipat!. hehehe  Lucu bukan? Mencari dan melakukan sesuatu untuk melumpuhkan tapi malah melipatgandakannya! Entah bagaimana Tuhan menciptakan persaaan ini.” Dia menengadah ke langit. “Kita memiliki sistem yang berkolaborasi, indra, pikiran dan perasaan, tetapi dimana hal yang membuatnya bisa saling bersentuhan dan apa hal itu? Aku pun bingung. Dengan memikirkannya, katakanlah rindu ketika tidak tersampaikan lama kelamaan kau akan berkata ‘sakit hatiku’. Memang ada, ya, yang menghubungkan antara pikiran dan hati itu? Sarafkah itu? Saraf apa namanya? Saraf rindu?”

dia menggeleng sambil mengeluarkan suara “Ahkkkkkkkkkkkkkkkkkk”.
Ben berucap kembali dengan wajahnya yang lugu “Tetapi, di alam kebingunganku aku juga merasakannya, Kawan. Rindu, ya, benar rindu walau aku tidak tahu siklus apa yang terdapat dalam rindu itu dan bagaimana itu bisa sangat menyakitkan.”
Kawannya mempelototinya dari samping seakan dia terbawa masuk ke dalam bumi kerinduan.
“Wahai… RINDU, bisakah aku menyampaikan sajak ini kepada insan yang kurindukan?”

“Sampaikanlah.”

"Kamu tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
karena cinta telah sembunyikan pisaunya
Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalm kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun dalam darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api"

“hahahahaha kesambet dimana lu?"
“hahahahahahahahahah” Ben tertawa keras



(source : facebook status )